Minggu, 06 Mei 2012

Toba Bara dan Royal Chemie Segera IPO
Ilustrasi. (Foto: Daylife)
ILUSTRASI
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada dua emiten yang siap melantai di pasar saham dalam waktu dekat ini. Ke dua emiten tersebut yakni PT Toba Bara Sejahtera dan PT Royal Chemie Indonesia.

Kepala Biro PKP Sektor Riil Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK), Anis Baridwan, mengaku dalam penawaran saham perdana (Intitial Public Offering/IPO) tersebut, Toba Bara dibantu oleh PT Morgan Stanley Asia Indonesia, PT CLSA Indonesia dan PT Mandiri Sekuritas selaku penjamin emisi.

"Sementara PT Royal Chemie Indonesia yang Pernyataan Pendaftaran pada 1 Mei 2012, dibantu oleh Bahana Securities dan PT DBS Vickers," kata dia di Jakarta, Minggu (6/5/2012).

Sebelumnya IPO Toba Bara berencana melantai pada April lalu, namun rencana tersebut mengalami penundaan. "Kami tidak bisa berkomentar lebih lanjut karena banyak pihak yang terkibat. Selain itu, saham rencananya akan dijual ke luar negeri," kata Direktur Investment Banking Mandiri Sekuritas Iman Rachman, beberapa waktu lalu.

Toba Bara Sejahtera merupakan anak usaha Toba Sejahtera yang bergerak di sektor batu bara. Toba Bara Sejahtra memiliki tiga anak usaha lainnya yaitu PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Indomining, dan PT Trisensa Mineral Utama.

Sabtu, 05 Mei 2012

BUMI: Kondisi Utang Tergantung Faktor Eksternal
JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menuturkan, arus kas operasionalnya sekarang ini memang tergantung kepada faktor yang tidak bisa dikendalikannya. BUMI mengakui, harga jual batu bara, juga kondisi ekonomi global sangat mempengaruhi kondisi keuangan perseroan.

Sebelumnya, Standard & Poors Ratings Services menilai arus kas operasional Bumi Resources tidak bisa memenuhi kewajiban perseroan yang jatuh tempo pada tahun depan senilai USD480 juta (Rp4,41 triliun). Seiring dengan penilaian tersebut, lembaga pemeringkat tersebut merevisi prospek Bumi Resources menjadi negatif dari semula stabil.

"Kekhawatiran yang diungkapkan S&P terkait ancaman tidak terbayarnya utang jatuh tempo Bumi Resources adalah tergantung faktor yang tidak bisa kita kontrol," kata Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava .

Dia menjelaskan, BUMI memang membutuhkan dana untuk ekspansi anak usahanya PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pendanaan ekspansi tersebut, lanjut dia, bergantung kepada dana yang berasal dari Bukit Mutiara, Recapital dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Sebelumnya, SP menjelaskan prospek negatif BUMI mencerminkan utang perseroan yang lebih tinggi dari antisipasi S&P.

"Prospek negatif tersebut juga mencerminkan ekepektasi kinerja operasional Bumi Resources akan melemah pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini berdampak terhadap pertumbuhan arus kas perseroan yang tumbuh moderat," kata Analis S&P Vishal Kulkarni belum lama ini.

Menurutnya, dua faktor ini akan membatasi kemampuan Bumi Resources untuk mengurangi beban utang dalam setahun ke depan.

"Kami menilai risiko finansial Bumi Resources pada level agresif.  Kami perkirakan rasio dana dari operasional terhadap total utang mencapai level sekitar 10 persen dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan sehingga membatasi upaya pembayaran  maupun pembiayaan kembali utang," tutur Vishal.

"Kami melihat ada kewajiban Bumi Resources senilai USD480 juta yang jatuh tempo pada tahun depan dan review terhadap penilaian perseroan akan dilakukan apabila gagal menggalang dana untuk memenuhi kewajiban tersebut," tambahnya.

Jumat, 04 Mei 2012

Rupiah Berpotensi Melemah
Ilustrasi: rupiah dan dollar AS. 
JAKARTA- Pada perdagangan Jumat (4/52012) ini, kurs rupiah berpotensi bergerak dengan kecenderungan konsolidasi. Sinyal keengganan pelaku pasar mengambil posisi baru menjelang akhir minggu yang lebih dominan menopang dollar AS memunculkan tekanan untuk rupiah. Demikian catatan dari BNI Unit Treasury di Jakarta.
Bahkan, penantian atas data sektor tenaga kerja AS  malam nanti ikut menambah berat langkah rupiah dari ancaman pelemahan. Pergerakan dollar AS/rupiah di pasar NDF pun mengindikasikan peluang naiknya rupiah.
Kondisi yang tidak pasti tak hanya membebani mata uang rupaih tapi juga aset dengan imbal hasil tinggi. Apalagi Eropa akan merilis data Purchasing Manager Index siang hari nanti.
Hari Kamis kemarin (3/5/2012), rupiah ditutup melemah sangat tipis di level Rp 9.190 per dollar AS dibandingkan dengan level pembukaan yang berada pada Rp 9.205 per dollar AS setelah bergerak di kisaran Rp 9.185-9.205.
Aksi ambil untung  investor yang melanda sebagian besar mata uang Asia terimbas suramnya data ekonomi AS ikut membebani rupiah. Walau, penantian pertemuan Bank Sentral Eropa  berikut sinyalemen intervensi BI mampu menggiring rupiah kembali menjauh dari level tertinggi di tahun 2012.

Kamis, 03 Mei 2012

"Buyback" TLKM Sudah Rp 3 Triliun
 PT Telkom
JAKARTA - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sudah melakukan pembelian kembali alias buyback terhadap sahamnya pada kuartal pertama tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Dengan demikian, "Total buyback yang sudah kami lakukan itu sekitar Rp 3 triliun," kata Direktur Keuangan TLKM Sudiro Asno saat dijumpai selepas Investor Day 2012 di Jakarta, Kamis (3/5/2012).

Sebagai catatan saja, pada 2011 lalu, TLKM sudah melakukan buyback sebesar Rp 2 triliun. Sebelumnya, perusahaan pelat merah ini pun sudah menganggarkan dana sebesar Rp 5 triliun untuk pembelian saham kembali. "Jadi batas waktu kami untuk buyback itu hingga Desember. Dan saat ini masih sisa sekitar Rp 2 triliun," tambah Sudiro. Dia menambahkan, TLKM akan melakukan buyback di tahun ini dengan harga kisaran Rp 7.200 per saham.

"Kami sebenarnya masih menunggu bagaimana kondisi pasar. Bisa saja hal itu tidak kami lakukan semuanya," lanjut Sudiro.

Sekadar informasi, TLKM menggarkan capital expenditure berkisar antara Rp 15 hingga Rp 16 triliun pada tahun ini. Hingga Maret lalu, perusahaan sudah menggunakan dana belanja modal tersebut sebesar Rp 3,5 triliun. "Yang 2,4 triliunnya itu untuk Telkomsel dan sisanya untuk anak usaha kami. Mayoritas kami gunakan untuk pengembangan broadband," pungkas Sudiro.

Rabu, 02 Mei 2012

2013, PT Pos Indonesia Akan Lakukan IPO
 Mobil pos keliling melayani pelaut yang baru sandar di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (28/2/2012). PT Pos Indonesia mematok target pendapatan tahun ini mencapai Rp 3,7 triliun naik 23 persen dari tahun lalu yang mencapai Rp 3 triliun.

JAKARTA — PT Pos Indonesia akan melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2013. Perusahaan menginginkan dana dari masyarakat untuk ekspansi.
Direktur Utama PT Pos Indonesia I Ketut Mardjana menjelaskan, kebutuhan dana perusahaan sudah cukup mendesak. Apalagi, PT Pos Indonesia menginginkan ekspansi besar-besaran mulai tahun depan. "Kami akan lihat pasar dulu. Harapannya bisa pertengahan tahun atau akhir tahun depan, tapi kami belum tahu," kata Mardjana selepas acara BUMN Marketeers Club di Kantor Pos Indonesia Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (2/5/2012).
Saat ini, PT Pos Indonesia sedang menyusun rencana bisnis ke depan, termasuk memenuhi persyaratan surat dan dokumentasi terkait IPO. PT Pos Indonesia juga sedang menunggu persetujuan dari pemegang saham, khususnya pemerintah dan DPR, untuk bisa menyelenggarakan IPO tersebut. "Sampai saat ini, kami baru menunjuk perusahaan konsultan Ernst & Young untuk menyusun laporan proyeksi keuangannya," ujarnya.
Namun, Mardjana masih bungkam terkait jumlah saham yang akan dilepas ke masyarakat. Begitu juga dengan kebutuhan dana yang diperlukan saat IPO nanti. Namun, yang pasti, dana hasil dari IPO akan digunakan untuk pengembangan bisnis pos ke depan, perluasan kantor pos di pedesaan, dan peningkatan kapasitas IT.
Tahun ini, PT Pos Indonesia memproyeksikan pendapatan bisa mencapai Rp 3,4 triliun, naik 11 persen dibandingkan dengan pencapaian 2011. Target tersebut akan dikontribusikan dari surat dan parsel (54 persen), jasa keuangan (39 persen), dan sisanya lain-lain. Sementara target laba bersihnya sekitar Rp 182 miliar, meningkat dari Rp 145 miliar pada tahun lalu.

Selasa, 01 Mei 2012

Rupiah Diprediksi Tak Mampu Menguat
 ILUSTRASI
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi belum mampu mengalami pergerakan pascamenguat tipis pada penutupan sore lalu. Rupiah ditaksir akan bergerak pada kisaran Rp9.165-9.185.

"Hari ini diperkirakan bergerak antara level Rp9.165-9.185 per USD," kata analis valuta asing modal Reza Priambada.

Dia mengatakan, penguatan yang terjadi pada sore kemarin tidak terlepas dari pergerakan euro. Euro mengalami sedikit kenaikan, imbasnya dolar tertekan dan imbasnya mata uang yang lainnya naik. "Tekanan terhadap dolar karena pelemahan data ekonomi AS, yaitu GDP yang hanya 2,2 persen di luar ekpektasi yang sebesar 2,5 persen," akunya.

Penutupan sore kemarin, tertekannya dolar Amerika Serikat (AS) di pasaran telah membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat. Rupiah kembali menguat ke kisaran Rp9.180 per USD. Kurs tengah Bloomberg mencatat, rupiah menguat Rp7 per USD menjadi Rp9.183 per USD, dari sebelumnya Rp9.190 per USD, dengan range perdagangan harian Rp9.180-Rp9.195 per USD.

Sementara kurs tengah Bank Indonesia (BI) berada di kisaran Rp9.190 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.144-Rp9.236 per USD.

Senin, 30 April 2012

Rupiah Ditaksir Cuma Bergerak Tipis
 ILUSTRASI
MEDIA INFORMASI, JAKARTA - Akibat dari minimnya sentimen, nilai tukar ruiah terhadap dolar sepanjang pekan lalu hanya mampu bergerak tipis. Begitu juga dengan hari ini, pergerakan rupiah ditaksir tidak signifikan.

Analis valuta asing David Summual memprediksi, rupiah masih akan bergerak tipis dengan range berada di level Rp9.160-9.190 per USD mengawali perdagangan pekan ini. "Pergerakannya seminggu lalu berada di level Rp9.180-9.200 per USD. Sentimennya memang tipis,"

Namun adanya statement dari Gubernur the Fed Ben Bernanke mengenai stimulus yang membuat pergerakan pasar agak bearish terhadap dolar. "Kendati demikian data di AS kebanyakan positif penjualan rumah, unemployment itu membuat secara keseluruhan cukup berimbang makanya pergerakan tidak banyak, berimbang," akunya.

Selanjutnya, mengenai wacana pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, dia menilai jika hal tersebut merupakan hal yang tidak pasti. "Karena yang paling berpengaruh saat ini yang dilihat market adalah S&P yang tidak jadi memberikan rating kepada Indonesia," tuturnya.

Terakhir dia mengungkapkan, rilis data mengenai inflasi April saat ini tengah ditunggu oleh pelaku pasar. Pelaku pasar serta ekonom memperkirakan jika inflasi April -0,1 hingga 0,3 persen. "Kalau prediksi saya 0,1 persen," tandasnya.

Sebagai informasi, pada akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak flat. Rupiah terpantau belum mampu beranjak dari level Rp9.190 per USD. Kurs tengah Bloomberg pada pukul 03:59:32 WIB mencatatkan nilai tukar rupiah berada di Rp9.190 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.183-Rp9.202 per USD. Senada, Bank Indonesia (BI) mencatat pergerakan rupiah bercokol pada kisaran Rp9.190 per USD, dengan range perdagangan harian Rp9.144-Rp9.236 per USD.