Selasa, 08 Mei 2012

Asia Positif, IHSG Dibuka Naik 8 Poin
 
 ILUSTRASI
JAKARTA - Usai anjlok cukup dalam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat. Menguatnya IHSG ini seiring dengan positifnya indeks global.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Yualdo Yudoprawiro mengatakan, reboundnya IHSG seiring penguatan bursa regional. Beberapa saham khususnya sektor banking yang kemarin terkoreksi signifikan diperkirakan akan menguat hari ini.

Sementara saham-saham berbasis domestic consumption diperkirakan akan memfaktorkan sentimen positif dari rilis data GDP kuartal I-2012 Indonesia yang inline dengan estimasi dan penurunan angka pengangguran dari 6,8 persen menjadi 6,3 persen.

IHSG, pada awal perdagangan Selasa (8/5/2012) menguat 8,26 poin atau 0,2 persen menjadi 4.167,12. LQ45 naik 2,21 poin atau 0,3 persen ke 708,94.

Mayoritas sektor pendukung indeks saham menguat. Sektor tambang naik 7,7 poin atau 0,3 persen, sektor perkebunan naik 10,28 poin atau 0,5 persen dan sektor keuangan naik 1,75 poin atau 0,3 persen.

Bursa Asia sendiri pagi ini dibuka rebound setelah koreksi signifikan yang terjadi kemarin seiring membaiknya sentimen bursa global semalam dan rilis kinerja emiten yang lebih baik dari estimasi analis.

Indeks Hang Seng naik 53 poin atau 0,26 persen ke 20.5889, Nikkei naik 55,04 poin atau 0,6 persen ke 9.174 dan Straits Times menguat 11 poin atau 0,38 persen menjadi 2.935.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp135,9 miliar dengan volume perdagangan 105,39 juta lembar saham. Sebanyak 78 saham menguat, 15 saham melemah dan 81 saham terpantau masih stabil.

Saham yang bergerak menguat (top gainers) antara lain PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp500 ke Rp38.350, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik Rp400 ke Rp21.550 dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik Rp300 ke Rp21.450.

Sementara saham-saham yang melemah (top loosers) adalah PT United Tractor Tbk (UNTR) turun Rp650 ke Rp27.800, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun Rp150 ke Rp18.400 dan PT Bank Mega Tbk (MEGA) turun Rp100 ke Rp3.400.

Senin, 07 Mei 2012

Anjlok 78 Poin, Francois Hollande Sukses Pukul IHSG
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
 ILUSTRASI
JAKARTA - Sentimen negatif benar-benar memayungi pasar modal global. Indeks Asia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok signifikan pada awal perdagangan hari ini.

"IHSG sendiri hari ini diperkirakan akan turut dibuka melemah seiring koreksi yang terjadi di bursa regional," kata analis Samuel Sekuritas Indonesia Yualdo Yudoprawiro dalam risetnya di Jakarta, Senin (7/5/2012).

Beberapa saham yang telah menguat signifikan dalam sepekan kemarin, terutama saham-saham berbasis consumer, diperkirakan akan tertekan aksi profit taking sementara sektor berbasis komoditas akan tertekan koreksi yang terjadi di harga minyak. "Support indeks berada di level 4.180," jelas dia.

IHSG, pada awal perdagangan Senin (7/5/2012) turun 45,5 poin atau 1,16 persen ke 4.166,4. Beberapa menit selanjutnya, indeks sudah turun 78 poin atau 1,8 persen.

Nilai transaksi tercatat sebanyak Rp208 miliar dengan volume sebanyak 187 juta lembar saham. Sebanyak 182 saham melemah, lima saham menguat, dan 40 saham stagnan.

Bursa Asia pagi ini dibuka melemah signifikan sekira dua persen memfaktorkan koreksi bursa global dan komoditas di akhir pekan lalu. Sentimen negatif juga datang dari kemenangan pihak oposisi dalam pemilu Prancis yang kembali mencuatkan ketidakpastian dalam penyelesaian krisis di Uni Eropa. Harga minyak melanjutkan koreksinya pagi ini ke level USD96,2 per barel (turun 2,2 persen).

Wakil dari Partai Sosialis Prancis, Francois Hollande, menggantikan Nicolas Sarkozy menjadi presiden di negara tersebut. Arah kebijakan penyelesaian krisis utang Eropa ala Hollande ini ditaksir akan berbeda dengan kebijakan yang ditempuh Uni Eropa.

Sarkozy harus mengakui kekalahannya atas Hollande dalam Pemilu Presiden Prancis tahun ini. Kekalahan Sarkozy membuat kehilangannya kekuasaannya. Hollande mendapatkan 52 persen suara pada pemilu yang berlangsung Minggu 6 Mei 2012. Sementara itu, Sarkozy hanya mendapatnya 48 persen suara.

Indeks Hang Seng turun 519,56 poin atau 2,56 persen ke 20.566,44, Nikkei turun 237,9 poin atau 2,54 persen ke 9.142 dan Straits Times turun 48,51 poin atau 1,62 persen ke 2.942.

Saham yang bergerak melemah (top losers) adalah PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp1.650 ke Rp71.050, PT Indo Tamabangraya Megah Tbk (ITMG) turun Rp1.000 ke Rp38.000, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) turun Rp950 ke Rp28.350.

Sementara saham-saham yang menguat (top gainers), antara lain PT Multi Prima Sejahtera Tbk (LPIN) naik Rp625 ke Rp625 ke Rp3.150, PT Tanah laut Tbk (INDX) naik Rp50 ke Rp205 dan PT Tifa Finance Tbk (TIFA) naik Rp5 ke Rp285.

Minggu, 06 Mei 2012

Toba Bara dan Royal Chemie Segera IPO
Ilustrasi. (Foto: Daylife)
ILUSTRASI
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada dua emiten yang siap melantai di pasar saham dalam waktu dekat ini. Ke dua emiten tersebut yakni PT Toba Bara Sejahtera dan PT Royal Chemie Indonesia.

Kepala Biro PKP Sektor Riil Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK), Anis Baridwan, mengaku dalam penawaran saham perdana (Intitial Public Offering/IPO) tersebut, Toba Bara dibantu oleh PT Morgan Stanley Asia Indonesia, PT CLSA Indonesia dan PT Mandiri Sekuritas selaku penjamin emisi.

"Sementara PT Royal Chemie Indonesia yang Pernyataan Pendaftaran pada 1 Mei 2012, dibantu oleh Bahana Securities dan PT DBS Vickers," kata dia di Jakarta, Minggu (6/5/2012).

Sebelumnya IPO Toba Bara berencana melantai pada April lalu, namun rencana tersebut mengalami penundaan. "Kami tidak bisa berkomentar lebih lanjut karena banyak pihak yang terkibat. Selain itu, saham rencananya akan dijual ke luar negeri," kata Direktur Investment Banking Mandiri Sekuritas Iman Rachman, beberapa waktu lalu.

Toba Bara Sejahtera merupakan anak usaha Toba Sejahtera yang bergerak di sektor batu bara. Toba Bara Sejahtra memiliki tiga anak usaha lainnya yaitu PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Indomining, dan PT Trisensa Mineral Utama.

Sabtu, 05 Mei 2012

BUMI: Kondisi Utang Tergantung Faktor Eksternal
JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menuturkan, arus kas operasionalnya sekarang ini memang tergantung kepada faktor yang tidak bisa dikendalikannya. BUMI mengakui, harga jual batu bara, juga kondisi ekonomi global sangat mempengaruhi kondisi keuangan perseroan.

Sebelumnya, Standard & Poors Ratings Services menilai arus kas operasional Bumi Resources tidak bisa memenuhi kewajiban perseroan yang jatuh tempo pada tahun depan senilai USD480 juta (Rp4,41 triliun). Seiring dengan penilaian tersebut, lembaga pemeringkat tersebut merevisi prospek Bumi Resources menjadi negatif dari semula stabil.

"Kekhawatiran yang diungkapkan S&P terkait ancaman tidak terbayarnya utang jatuh tempo Bumi Resources adalah tergantung faktor yang tidak bisa kita kontrol," kata Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava .

Dia menjelaskan, BUMI memang membutuhkan dana untuk ekspansi anak usahanya PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pendanaan ekspansi tersebut, lanjut dia, bergantung kepada dana yang berasal dari Bukit Mutiara, Recapital dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Sebelumnya, SP menjelaskan prospek negatif BUMI mencerminkan utang perseroan yang lebih tinggi dari antisipasi S&P.

"Prospek negatif tersebut juga mencerminkan ekepektasi kinerja operasional Bumi Resources akan melemah pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini berdampak terhadap pertumbuhan arus kas perseroan yang tumbuh moderat," kata Analis S&P Vishal Kulkarni belum lama ini.

Menurutnya, dua faktor ini akan membatasi kemampuan Bumi Resources untuk mengurangi beban utang dalam setahun ke depan.

"Kami menilai risiko finansial Bumi Resources pada level agresif.  Kami perkirakan rasio dana dari operasional terhadap total utang mencapai level sekitar 10 persen dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan sehingga membatasi upaya pembayaran  maupun pembiayaan kembali utang," tutur Vishal.

"Kami melihat ada kewajiban Bumi Resources senilai USD480 juta yang jatuh tempo pada tahun depan dan review terhadap penilaian perseroan akan dilakukan apabila gagal menggalang dana untuk memenuhi kewajiban tersebut," tambahnya.

Jumat, 04 Mei 2012

Rupiah Berpotensi Melemah
Ilustrasi: rupiah dan dollar AS. 
JAKARTA- Pada perdagangan Jumat (4/52012) ini, kurs rupiah berpotensi bergerak dengan kecenderungan konsolidasi. Sinyal keengganan pelaku pasar mengambil posisi baru menjelang akhir minggu yang lebih dominan menopang dollar AS memunculkan tekanan untuk rupiah. Demikian catatan dari BNI Unit Treasury di Jakarta.
Bahkan, penantian atas data sektor tenaga kerja AS  malam nanti ikut menambah berat langkah rupiah dari ancaman pelemahan. Pergerakan dollar AS/rupiah di pasar NDF pun mengindikasikan peluang naiknya rupiah.
Kondisi yang tidak pasti tak hanya membebani mata uang rupaih tapi juga aset dengan imbal hasil tinggi. Apalagi Eropa akan merilis data Purchasing Manager Index siang hari nanti.
Hari Kamis kemarin (3/5/2012), rupiah ditutup melemah sangat tipis di level Rp 9.190 per dollar AS dibandingkan dengan level pembukaan yang berada pada Rp 9.205 per dollar AS setelah bergerak di kisaran Rp 9.185-9.205.
Aksi ambil untung  investor yang melanda sebagian besar mata uang Asia terimbas suramnya data ekonomi AS ikut membebani rupiah. Walau, penantian pertemuan Bank Sentral Eropa  berikut sinyalemen intervensi BI mampu menggiring rupiah kembali menjauh dari level tertinggi di tahun 2012.

Kamis, 03 Mei 2012

"Buyback" TLKM Sudah Rp 3 Triliun
 PT Telkom
JAKARTA - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sudah melakukan pembelian kembali alias buyback terhadap sahamnya pada kuartal pertama tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Dengan demikian, "Total buyback yang sudah kami lakukan itu sekitar Rp 3 triliun," kata Direktur Keuangan TLKM Sudiro Asno saat dijumpai selepas Investor Day 2012 di Jakarta, Kamis (3/5/2012).

Sebagai catatan saja, pada 2011 lalu, TLKM sudah melakukan buyback sebesar Rp 2 triliun. Sebelumnya, perusahaan pelat merah ini pun sudah menganggarkan dana sebesar Rp 5 triliun untuk pembelian saham kembali. "Jadi batas waktu kami untuk buyback itu hingga Desember. Dan saat ini masih sisa sekitar Rp 2 triliun," tambah Sudiro. Dia menambahkan, TLKM akan melakukan buyback di tahun ini dengan harga kisaran Rp 7.200 per saham.

"Kami sebenarnya masih menunggu bagaimana kondisi pasar. Bisa saja hal itu tidak kami lakukan semuanya," lanjut Sudiro.

Sekadar informasi, TLKM menggarkan capital expenditure berkisar antara Rp 15 hingga Rp 16 triliun pada tahun ini. Hingga Maret lalu, perusahaan sudah menggunakan dana belanja modal tersebut sebesar Rp 3,5 triliun. "Yang 2,4 triliunnya itu untuk Telkomsel dan sisanya untuk anak usaha kami. Mayoritas kami gunakan untuk pengembangan broadband," pungkas Sudiro.

Rabu, 02 Mei 2012

2013, PT Pos Indonesia Akan Lakukan IPO
 Mobil pos keliling melayani pelaut yang baru sandar di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (28/2/2012). PT Pos Indonesia mematok target pendapatan tahun ini mencapai Rp 3,7 triliun naik 23 persen dari tahun lalu yang mencapai Rp 3 triliun.

JAKARTA — PT Pos Indonesia akan melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2013. Perusahaan menginginkan dana dari masyarakat untuk ekspansi.
Direktur Utama PT Pos Indonesia I Ketut Mardjana menjelaskan, kebutuhan dana perusahaan sudah cukup mendesak. Apalagi, PT Pos Indonesia menginginkan ekspansi besar-besaran mulai tahun depan. "Kami akan lihat pasar dulu. Harapannya bisa pertengahan tahun atau akhir tahun depan, tapi kami belum tahu," kata Mardjana selepas acara BUMN Marketeers Club di Kantor Pos Indonesia Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (2/5/2012).
Saat ini, PT Pos Indonesia sedang menyusun rencana bisnis ke depan, termasuk memenuhi persyaratan surat dan dokumentasi terkait IPO. PT Pos Indonesia juga sedang menunggu persetujuan dari pemegang saham, khususnya pemerintah dan DPR, untuk bisa menyelenggarakan IPO tersebut. "Sampai saat ini, kami baru menunjuk perusahaan konsultan Ernst & Young untuk menyusun laporan proyeksi keuangannya," ujarnya.
Namun, Mardjana masih bungkam terkait jumlah saham yang akan dilepas ke masyarakat. Begitu juga dengan kebutuhan dana yang diperlukan saat IPO nanti. Namun, yang pasti, dana hasil dari IPO akan digunakan untuk pengembangan bisnis pos ke depan, perluasan kantor pos di pedesaan, dan peningkatan kapasitas IT.
Tahun ini, PT Pos Indonesia memproyeksikan pendapatan bisa mencapai Rp 3,4 triliun, naik 11 persen dibandingkan dengan pencapaian 2011. Target tersebut akan dikontribusikan dari surat dan parsel (54 persen), jasa keuangan (39 persen), dan sisanya lain-lain. Sementara target laba bersihnya sekitar Rp 182 miliar, meningkat dari Rp 145 miliar pada tahun lalu.